Panik menimbun pohon obat di tengah ketakutan virus memakan korban



 "pemicu kepanikan" (panic buying) terhadap bahan-bahan herbal ini berdampak negatif bagi para penjual jamu tradisional. Mereka mengeluhkan lonjakan harga bahan baku utama, khususnya jahe merah.

Keluhan Penjual Jamu

Sumini, seorang penjual jamu di Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mengungkapkan keresahannya atas kenaikan harga yang drastis baru-baru ini.

“Harga jahe merah adalah yang paling terdampak. Selain itu, harga kencur dan temulawak juga ikut naik tajam,” ujar Sumini, seperti dikutip dari Kompas.com.

Sumini menjelaskan bahwa bahan-bahan tersebut merupakan komponen utama empon-empon (kelompok rimpang rempah-rempah) yang digunakan untuk meracik minuman tradisional.

Alasan Di Balik Tren Empon-empon

Popularitas minuman tradisional ini meningkat pesat setelah munculnya penelitian terbaru dari Chairul Anwar Nidom, seorang profesor dari Universitas Airlangga (Unair), Jawa Timur. Ia mengklaim bahwa mengonsumsi minuman tradisional tersebut dapat meningkatkan kekebalan tubuh (imunitas) terhadap penyakit.

Chairul menjelaskan bahwa empon-empon mengandung curcumin, zat yang umum ditemukan dalam kunyit. Zat ini diyakini dapat membantu mencegah terjadinya "badai sitokin" di dalam paru-paru.

Apa itu Badai Sitokin?

Chairul memaparkan, "Sitokin sebenarnya memiliki tujuan positif, namun jika berlebihan memiliki efek samping negatif yang dapat merusak sel di sekitarnya. Sitokin inilah yang menyebabkan suhu tubuh memanas ketika seseorang terinfeksi kuman."

Secara teori, curcumin dapat membantu mengendalikan produksi berlebih sel-sel kekebalan dan senyawa pengaktifnya tersebut.

Konteks Penelitian

Minuman tradisional sebelumnya diketahui memiliki efek pengobatan yang kuat dalam meringankan gejala flu burung. Meski demikian, pihak Universitas menyatakan akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah ramuan tersebut memiliki efek spesifik yang sama efektifnya terhadap virus corona jenis baru (COVID-19).

Comments